Anton
[Facts] : Children Cycling To School

"Why Asians Are Less Creative Than Westeners?" - Prof. Ng Aik Kwang.
Judulnya eye-catching. Itu judul buku lama yang ditulis oleh Ng Aik Kwang, seorang Doktor of Philosophy dan Profesor dari Queensland University, Australia. Mengapa menarik?. Mari dilihat dari perspektif ke-Indonesia-an, karena nampaknya kesanalah tulisan Profesor itu ditujukan, sehingga tidak termasuk Asia lain macam China, Jepang dan Korea. Di Asia (Tenggara),
Di Indonesia khususnya, terjadi anomali. Sila perhatikan sekeliling jika anda sempat gowes kapan pun dan dimana pun. Terutama yang mendominasi adalah pesepeda dengan usia diatas 20 - 30 tahunan. Bahkan terkadang banyak yang dengan usia 40, 50 dan bahkan 60an tahun. Kemana anak-anak usia under-age-20-nya?. Lihat ilustrasi persentasi peseda usia sekolah yang diposting member B2W Om Ndlahom, dimanakah posisi generasi muda produktif usia sekolah di Indonesia yang mau bersepeda ke sekolah? Nol!.Mereka terenggut perhatiannya dengan hobby modifikasi mobil dan motor atas nama pergaulan dan kekerenan atau gadgets freaks.
Di sekolah-sekolah di Jakarta, kebanyakan mereka antar jemput. Hal yang wajar jika jarak tempuh ke sekolah memang tidak layak untuk dilalui dengan bergowes. Namun juga iklim dan atmosfer lalu lintas Jakarta tidak kondusif untuk menumbuhkan kecintaan anak sekolah untuk bersepeda ke sekolah. Resiko bersepda di Jakarta sangat besar dan membahayakan sehingga mudah dipahami.
Makanya dibutuhkan Gubernur DKI yang hobby bersepedanya sudah teruji dengan track record penaklukan-penaklukan trek-trek sejak masa mudanya segunung. Bukan cuma yang mau cari simpati voters jelang pilgub barulah mereka pamer bersepeda keliling-keliling. Bahkan ada walikota/bupati yang (niatnya) mengkampanyekan hemat energi dengan B2W, dengan bersepeda ke kantornya, tapi gowesnya dengan baju safari lengkapnya, LOL!. Dikawal oleh staf-stafnya dan dikawal voor rijders pulak. Saya yakin, sekali itu saja beliau gowes ke kantor, besok-besok juga nggak lagi tuh. Wanna bet?. Kata kuncinya : mereka gowes karena kepentingan saja, bukan karena itu hobby dan passion mereka dan bukan karena telah menjadi bagian dari hidup mereka yang digeluti jauh hari sebelumnya.
Kembali ke anak-anak, bagaimana juga dengan hari libur mereka?. Bilakah mereka memiliki hobby gowes diwaktu senggangnya?. Boro-boro. Kegiatan akademis dan ekstra kurikuler sekolah sudah menguras habis energi mereka sehari-hari. Sabtu Minggu ya waktunya nge-charge energi dengan tidur dan bermalas-malasan. Bersepeda? Don't even think about it.
Konon, Indonesia juga banyak menghasilkan anak-anak muda juara-juara olimpiade matematika, fisika. Apakah itu tanda sudah kreatif?.
Lalu, lihat mentalitas pegawai pemerintahan kebanyakan dan juga karyawan non pemerintahan, katanya mereka ABS, Asal Bapak Senang, SDM, Selamatkan Diri Masing-masing, apapun istilahnya yang terbaru. Mari kita batasi bicarakan penyebab ketiga hal itu dulu. 
Masih menurut Ng, dengan alih bahasa yang mudah dimengerti, Ng mau mengatakan mentalitas paling menonjol orang Asia (selanjutnya disebut Asians saja) adalah kesukaannya untuk berdiam di zona nyaman, mengingat standard sukses orang asia itu adalah harta, tahta, wanita, dengan segala jenis varietas turunannya bagi ketiga jenis itu. Makanya, stereotype most wanted jobs di asia macam dokter, PNS, pengacara, laku keras. Sangat sedikit orang asia yang menggeluti pekerjaannya karena passions dan kreativitas semata, faktanya kewirausahaan di Indonesia hanya sebesar 0.3% dari total populasi, kalah jauh dengan Singapura yang hampir >2% (jika tidak salah data). Orang asia lebih mengagungkan hasil pencapaian katimbang proses mencapainya itu sendiri. Mungkin takut diketahui jika hasil pencapaiannya ternyata diraih lewat shortcuts.
Akarnya adalah pola pendidikan sejak tingkat dasar, menengah dan tinggi bagi generasi muda Indonesia yang hanya mengandalkan penekanan kepada kemampuan logika dan bahasa, dapat dilihat dari kurikulum buatan Diknas yang eksis hingga saat ini. Kurikulum ini sangat membebani anak-anak tanpa ada celah sedikitpun untuk pengembanagan kreativitas dan jiwa eksplorasi anak. Coba rasakan beratnya tas sekolah mereka yang penuh dengan buku. Banyak dari mereka pada usia muda sudah memakai alat bantu penglihatan (kacamata). Waktu bermain habis diisi mengerjakan PR di rumah, les, ekstrakurikuler yang tidak dilandasi penelitian bakat dan minat secara mendalam.Bak robot terprogram.Nggak ada waktu buat sepedahan om!
Prihatin, oleh karenanya mustinya ada kurikulum tandingan, semacam kurikulum Cambridge, dsb. Kurikulum yang seperti kata Einstein bahwa belajar itu = bermain itu = belajar. Kurikulum Diknas sangat tidak mengakomodir bermacam kecerdasan (Multiple Intelligent-nya Dr Howard Gardner).Mustinya belajar itu fun. Memfasilitasi minat dan bakat. Bukan malah menekannya bahkan mengeliminasinya.
Sehingga, jangan heran jika sejauh mata memandang di manapun, kapanpun, terkadang, para goweser di dominasi usia 30 - 60an. Kecuali mereka memang atlet downhillers, XCers, dan road racers. Alih-alih fakta bahwa mereka hobby, tapi tak menutup kemungkinan pula bahwa itu mungkin karena di usia muda waktunya banyak terserap kegiatan akademis yang tidak memerdekakan atas nama masa depan yang cerah. Bukti bahwa baru lega sekarang. Baru merdeka sekarang.
Juga, jangan bangga dulu jika mendengar kabar Indonesia juga banyak menghasilkan anak-anak muda juara-juara olimpiade matematika, fisika. Itu hanya uji pengetahuan berdasarkan hapalan saja, oleh karenanya sulit menghasilkan generasi orang asia yang bisa memenangkan nobel, atau berbasis inovasi dan kreativitas, misalnya. Rasa mau tahu dan mengeksplorasi (bedakan dengan suka mencampuri urusan orang), sangat rendah karena orang asia biasanya suka JAIM, jaga image, pencitraan is everything. Makanya, pantai di Indonesia itu indah-indah, tapi yang menikmati to the max hanya wisatawan asing. Orang asia kalau wisata ke pantai saja kostumnya sudah salah kok!. Atas nama sopan santun, nilai agama, katanya jika ditanya. LOL!.
Orang asia juga takut salah, takut kalah, sehingga setiap anak sekolah tidak berani bertanya kepada pada guru perihal pelajaran tertentu, padahal belum mudheng sepenuhnya. Terbawalah hingga dewasa dalam lingkup pekerjaan, jika jadi anak buah banyak bertanya artinya ia bodoh, dianggap melawan. Jadi atasan pun prinsipnya The King Can Do No Wrong!. Rasa eksplorasi yang merupakan anugerah dimatikan sistem (kurikulum) dan budaya. Banyak murid dan pegawai memberhalakan "jalan pintas", shortcuts. Sad. But True.
Belajar dari orang-orang tua kita yang baik dahulu kala, budi pekerti really is everything. Karakter baik is te most important. Di Australia mencontoh pengajaran luhur itu : *para guru di Australia jauh lebih khawatir jika murid-murid mereka tidak menyeberang jalan dengan benar, tidak membuang sampah pada tempatnya, tidak berbicara dengan santun, tidak berempati, tidak peduli terhadap teman dan lingkungan, serta tidak berpikir kritis terhadap hal-hal yang merusak/mengganggu, katimbang jika siswa kelas lima mereka tidak menguasai matematika dan pelajaran akademis lainnya. Menurut mereka, kita hanya perlu waktu tiga bulan untuk melatih seorang anak bisa matematika, tapi diperlukan waktu lebih dari lima belas tahun untuk bisa membuatnya memiliki sikap empati, peduli, dan berkarakter baik*. Jiwa petualang musti ditumbuhkan sejak dini. Sifat keingintahuan musti difasilitasi. Biarkan anak bermain, jika salah satunya bersepeda, let it be.
Choices is up to you.
Tabik.
*Let's Make Indonesia Strong From Home's copyrighted
Tag: Umum , fakta , buku
Dibalik itu memang ada kecenderungan peningkatan dalam penggunaan motor oleh anak-anak SMP meskipun sejatinya mereka dilarang mengendarai motor ke sekolah (atau kemanapun karena umurnya belum cukup). Karena dilarang mereka menitipkan di jasa penitipan di luar sekolah sehingga masuk sekolah terlihat berjalan kaki saja. Bagi saya ini memprihatinkan.
saya pikir pelajaran khusus macam budi pekerti dan semacamnya tidak diperlukan dalam hal ini karena hanya akan menambah beban hapalan murid kita. Yang paling penting adalah menanamkan sikap jujur dan bertanggung jawab di lingkungan sekolahnya. Kejujuran akan menimbuhkan keberanian, tanggung jawab akan menghasilkan kehati-hatian, dan pada gilirannya akan meningkatkan daya kreatifitas anak-anak Indonesia. Ini tidak mudah karena hasilnya tidak dapat dirasakan dalam satu periode Presiden RI
Semoga kemajuan zaman diimbangi kearifan lokal, kapanpun, dimanapun. Salam.
*masa" Jahiliyah*






195.00
46.00
