@W_Thok

Penting +1 rating

AYO SEMARANG!, Memartabatkan Pengendara Sepeda
 @W_Thok19 Mei 2010, 11:530 komentar di Kategori: Umum

Memartabatkan Pengendara Sepeda
Oleh HM Tamzil

HATI rasanya terketuk ketika sebuah harian nasional memuat berita tentang komunitas sepeda (bike to walk/sepeda onthel) menggelar protes untuk mendapatkan jalur khusus di jalan raya. Sebenarnya penulis sudah lama ingin menulis mengenai jalur untuk sepeda di Semarang.
Penulis teringat ketika berada di Belanda, beberapa waktu lalu. Hampir semua kota di Negeri Tulip itu, semisal Rotterdam, Den Haag, dan Amsterdam memilliki jalur sepeda. Keberadaan jalur sepeda tak asing di kota yang punya pola transportasi sangat baik.
Di Negeri Kincir Angin masih banyak dijumpai orang naik sepeda dan hampir di semua jalan di negara itu ada jalur sepeda. Mulai jalan arteri utama, jalan kolektor hingga jalan lingkungan.
Lebar jalurnya pun bervariasi. Ada yang 4 meter, 3 meter, bahkan hanya 1 meter, dengan finishing garis merah atau putih putus-putus sebagai pembatas jalur motor dan sepeda. Hebatnya, pengendara motor dan mobil sangat menghormati mereka yang bersepeda dengan memberi jalan seluas-luasnya.

Di Negeri Tulip ini banyak orang bersepeda mengenakan jas lengkap. Itu menandakan bersepeda merupakan bagian dari budaya. Ada juga yang bersepeda bersama keluarga hingga empat dan lima orang, yang pria bertelanjang dada dan bergerombol seperti membentuk kelompok.
Ini merupakan kenikmatan bagi komunitas bersepeda. Bukan cuma jalan raya yang punya jalur sepeda melainkan juga taman di tengah kota dan hutan kota. Bersepeda di dalam hutan kota merupakan surga buat para biker di Belanda.
Di negara-negara maju, khususnya di Eropa, naik sepeda tetap bergengsi. Bahkan, sepeda merupakan alat transportasi terpenting kedua di belakang bus umum dan kereta api. Bagi orang-orang Eropa, mobil pribadi justru tak begitu penting, terutama untuk kaum pekerja.

Kondisi itu bertolak belakang dengan Indonesia. Di kota-kota besar di Tanah Air, masyarakat kalangan menengah ke atas lebih menyukai bepergian dengan mobil atau motor pribadi. Image mobil adalah barang mewah dan berkaitan dengan status sosial terlihat sangat kental.
Status negara (maju, sedang berkembang, dan miskin) dan pola pikir masyarakatnya terbukti sangat berpengaruh. Di negara maju, ada kesetaraan antara pengguna mobil mewah dan kaum bersepeda. Mengapa? Sebab, mereka yang mau menggowes itu belum tentu dari kalangan tak berduit. Mereka memakai sepeda dengan perhitungan praktis saja.
Dari sisi kesehatan pun, bersepeda otomatis menyehatkan. Dengan berpeluh dan berkeringat, lemak ikut terbakar. Eksesnya, kondisi badan kian fit dan kekuatan otot ikut terjaga.
Lebih efektif dan efisien bersepeda di jalanan ketimbang membeli alat-alat fitnes untuk mendapatkan kebugaran fisik prima. Sepeda lebih murah dan tak membosankan. Tinggal sekarang bagaimana memberi sepeda-mania jalur khusus yang membuat mereka aman dan nyaman.
Diterapkan di Semarang

Hal ini sebetulnya dapat diterapkan di Simpanglima Semarang yang pada bagian tengahnya bisa diberi jalur sepeda yang ditata rapi. Jalur serupa bisa dibentuk di Jalan Menteri Soepeno dan kawasan Trilomba Juang Mugas.
Pada saat penulis bertemu dengan warga negara Belanda dalam studi banding tentang polder, mereka merasa bangga jika ke kantor naik sepeda. Fakta itu bisa dicontoh.
Bagaimana di Semarang? Penulis senang dan sering bersepeda. Namun, kondisi dan topografi Kota ATLAS belum mendukung bagi komunitas bersepeda. Di sini, ruang publik yang ideal belum dilengkapi jalur sepeda sehingga sering bertabrakan dengan orang dan kendaraan lain.
Saat ini sangat mungkin membentuk jalur sepeda di Semarang dimulai dari kota bawah (Simpanglima, Jalan Pandanaran, Jl Gajahmada, Jl Pemuda, Jl A Yani, dan Majapahit. Ini penting dan perlu diwujudkan, karena orang-orang yang senang bersepeda kini makin banyak. Itu ditambah dengan banyaknya komunitas bersepeda yang merindukan jalur untuk sepedanya.
Di era globalisasi dan terjadinya pemanasan global, bersepeda jelas bermanfaat. Selain lingkungan bersih tetap terjaga, pelakunya bisa sehat dan berhemat.

Jalur sepeda di Semarang adalah pekerjaan rumah bagi wali kota terpilih. Di tengah kemacetan yang bertambah setiap harinya, bersepeda dan jalur sepeda merupakan solusi yang tepat dan sehat.
Pemassalan bersepeda di kota-kota besar pantas digiatkan lagi. Upaya itu perlu dimulai dari kalangan atas hingga elite. Memang tidak mudah, tapi apa salahnya dicoba. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
Jika jalur sepeda benar-benar bisa diwujudkan, penulis yakin akan makin banyak orang mau meng-onthel di jalanan umum. Efek dari pemassalan bersepeda pasti berdampak positif.

— Ir HM Tamzil MT, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Jateng
Dimuat di harian suara merdeka Selasa 18 Mei 2010
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailb
eritacetak&id_beritacetak=109823

 

Tag: Umum , Jalur Sepeda , B2W-Semarang , Tatakota

 

Yang merating Note ini:


0 Komentar
Lakukan Login untuk memberikan komentar.

 

Note terkait:

Jalur Sepeda Pertama di Jakarta
05 Mei 2011, 00:52
Ini Langkah Pemerintah Tertibkan Jalur Sepeda
31 Mei 2011, 10:44
B2W: Gaya Hidup vs. Kebutuhan Hidup
10 Februari 2012, 15:59