S.M. Yan Tumbelaka
Bali Berbagi
Rindu akan kedamaian dan ketentraman berbangsa. Itulah yang membuat saya mewujudkan perjalanan bersepeda di Bali dan mengabadikan nilai-nilai filosofis budaya Indonesia yang kemudian saya bagi pada teman-teman. Dari pengalaman dan pengamatan saya, seni dan olahraga adalah bahasa universal yang dapat mempersatukan keragaman. Profesi sebagai fotografer dan kegemaran bersepeda saya padukan untuk program ini. Saya komunikasikan suara damai dalam seni dan olahraga melalui foto dan catatan perjalanan saya di Bali.
Tiga belas hari pertama di Bali saya bersepeda mengunjungi para saudara dan teman di Bali, sekaligus survey dan berdialog mencari informasi sebanyak mungkin untuk mendukung program ini. Setiap hari bersepeda sekitar 50 km, bahkan ada beberapa hari menempuh jarak diatas 150 km. Setiap hari saya belajar mengalahkan rasa letih, teriknya matahari, dinginnya angin sore dengan guyuran air hujan, dikejar anjing saat bersepeda sore-malam hari. Saya berkeliling ke GWK, Pecatu, Kuta, Legian, Seminyak, Umalas, Kerobokan, Denpasar, Sanur, Guwang, Sukawati, Batuan, Ubud, Kedewatan.
Di setiap daerah yang saya lalui dan kunjungi, sambutan penduduk sangat akrab. Pembicaraan mudah terjalin. Mereka heran ada orang Jakarta yang mau lakukan perjalanan bersepeda sendirian dan tinggal dengan penduduk setempat.
Tanggal 5 Desember 2010 petang, pembelajaran pertama dimulai. Saya tinggal di Sanggar Umah Kodok, Yayasan Tri Pusaka Çakti. Selama delapan hari saya meliput kehidupan sehari-hari di sanggar, dimana saya diterima dengan penuh kekeluargaan. Bapak I Made Djimat (legenda hidup penari Bali) dan I Nyoman Budi Artha (putra ketiganya) selaku pimpinan yayasan, dengan penuh kemurahan hati berbagi pengetahuan dan filosofi seni tari dan gamelan Bali.
Setiap pagi, saya dibangunkan suara gender gamelan Bali dan kicauan burung. Membuka pintu belakang kamar, pendar sinar sang surya pada embun di pucuk padi berselimut kabut menyapa ramah dan memberikan semangat untuk belajar dan inspirasi untuk mengambil gambar.
Biasanya tepat pukul lima pagi Pak Djimat mulai berbagi ilmu menari kepada dua muridnya Ai (Jepang) dan Luz Ma (Kolombia). Setiap hari jadwal belajar dimulai dan diakhiri dengan doa sesuai agama masing-masing. Setiap hari jadwal belajar pagi dan sore berjalan tepat waktu dan selalu dilanjutkan dengan bincang-bincang sampai larut malam. Tidak ada kendala dalam berkomunikasi yang campur aduk dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jepang dan Latin. Damai. Universal.
Kesederhanaan keluarga seniman Bali ini memberikan kemewahan dalam batin. Nafas berbagi dan kasih dalam setiap laku para guru memenuhi jiwa siapapun yang hadir disana, baik bagi murid menari maupun saya yang tidak belajar menari. Selama 8 hari kami semua bersatu layaknya sebuah keluarga. Saling berbagi dan menerima. Di sanggar ini kami semua membangun sesuatu yang mewakili banyak hal. Di sanggar ini mata hati saya semakin terbuka, untuk terus berbagi dalam bentuk apapun, baik keahlian, pengalaman, waktu dan juga cinta kasih. Saya belajar banyak dari seni tari klasik, terutama “Wayang Wong” yang merupakan seni tari yang berisi “pitutur,” ajaran hidup. Seperti yang terjadi di manapun, seringkali penyampaian ajaran hidup kepada keturunannya dilakukan melalui pertunjukan seni tari dan musik.
Sanggar Umah Kodok sudah terkenal di berbagai belahan dunia, hal ini tidak merubah kepribadian keluarga pendiri dan anggotanya. Setiap menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan serta hari raya lainnya, sanggar Umah Kodok kerap diundang untuk menari, baik di pura, banjar maupun kediaman pribadi. Baik Pak Djimat maupun I Nyoman Budi Artha mengatakan bahwa mereka sangat menyambut undangan menari di pura dan banjar, karena merasa sangat terhormat dapat tampil dan menghibur masyarakat. Menari adalah ibadah juga. Seringkali mereka tidak menerima bayaran berupa uang, walaupun biaya yang mereka keluarkan besar untuk tampil bersama anggota sanggar (sewa truk untuk mengangkat gamelan lengkap dan penari).
Selama saya tinggal di sanggar, saya turut serta dalam beberapa acara menari di pura. Sesampainya di lokasi, seringkali tidak tersedia ruang ganti bagi para penari. Pak Djimat bersiap di belakang panggung yang sangat sederhana dalam posisi duduk, namun semangatnya tidak kendur sama sekali. Selesai menari, wajah dan bahasa tubuh beliau dan penari lainnya menampakan kebahagiaan. Suatu saat, dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan, Pak Djimat, I Nyoman Budi Artha, dan Nyoman Tri Artamurtin (Bayu 4th, putra ketiga Nyoman) menari di Pura di Payangan (Ubud). Walau hujan dan sampai larut malam, tiga generasi penari ini tetap tampil di bawah siraman air hujan. Bahkan Bayu tertidur di atas bale setelah dia tampil menari Baris Tunggal. Tidak ada satu kata keluhan yang tercetus, yang ada senyum bahagia dan ucapan Matur Suksma…
Sungguh nyata, berbagi dengan ikhlas membuahkan kebahagiaan. Mereka yang sehari-hari lekat dengan rutinitas menari, berkarya, berkesenian di desa, yang menurut kita tidak update, ternyata jauh di depan kita dalam batin. Mereka sangat kaya, bukan harta namun kaya hatinya. Pembangunan yang hakiki mereka jalankan, ternyata pembangunan fisik berjalan seiring dengan sendirinya, mengalir saja.
Terbukti benar pemikiran saya selama ini, bahwa bangsa dan negara Indonesia bisa lebih baik apabila kita semua bisa memaknai kata pembangunan. Pembangunan bukan semata fisik, namun meliputi juga hati dan rasa. Pembangunan bukan menghancurkan yang ada atau yang kuno/tradisional, namun juga merawat yang sudah ada. Semua itu bisa terwujud bila kita kenal budaya daerah di seluruh Indonesia. Sangat disayangkan bila menggeluti seni budaya dianggap kuno oleh banyak orang, bahkan dilupakan.
Perjalanan bersepeda seorang diri ini memberikan banyak pembelajaran bagi saya. Semoga rencana saya untuk program ini di belahan Indonesia lainnya terwujud. Besar keinginan untuk berbagi melalui kemampuan dan itikad saya.
INDONESIA itu BESAR. INDONESIA itu INDAH. INDONESIA itu KAYA. INDONESIA itu CINTA DAMAI. INDONESIA itu KERAGAMAN YANG TUNGGAL. Mari kita jaga dan rawat (baca: bangun).
Terimakasih kepada:
Tari, Dante dan Damien, keluarga tercinta, yang selalu mendukung sepenuhnya.
Bapak A. A. Ngr Mahendra.
Om Didi Nugrahadi dan Tim Langsatnya.
Om Kemal Arsjad yang meminjamkan sang Birdy dengan seluruh perangkat touring bersepeda.
Om Fajar W. Rachmadi.
Ayip Matamera, Sugi Lanus, Rudolf Dethu.
Pak Haji dan mbak Meme serta keluarga (Klub sepeda Dallas Bali).
Mas Tonny Sukirno dan keluarga.
Om Gung De, Om Edi Klub sepeda Hi’llanders Bali
Andreas Kuhn dan Om Iwan (The BIKE Shop, Jimbaran Bali)
Secara khusus, saya ucapkan terimakasih kepada Om Rivo Pamudji, yang pada pertengahan tahun 2010 membantu saya memberikan gagasan bersepeda keliling beberapa tempat untuk menyuarakan keinginan saya berbagi untuk Indonesia Bersatu Indonesia Damai.
Mohon maaf kepada Om Endra Datta (B2W Indonesia – Bali), saya tidak sempat bertemu. Kesempatan berikut pasti saya kunjungi.
Tag: Umum , Biking , bersepeda , Bali
'Kesederhanaan' bersepeda juga memberikan kemewahan batin yang tiada terperi
Ditunggu tulisan dan foto selanjutnya, Om. Semoga menginspirasi goweser lain.
* duu..duuu....duuu.. (siul2 tanpa suara)
Om Zaenal & Om Taufan: Tgl 1 Feb mulai om, start di Semarang - Jawa Tengah. Senang sekali bisa ada teman gowes + pelajari budaya
Terimakasih Om Hendra
@Rivo Pamudji: Foto-fotonya dong, oom...
bukannya ada disini : http://b2w-indone...bali_berbagi
akan lebih keren kalo di pasang dalam tulisan
E-300 sdh tidak ada sisa lagi, sdh 3 tahun ini, maaf ya
Episode Jawa Tengah? Siap oom!
















58.90
1090.90
