yusro m. santoso

Menarik +1 rating

Bike Line di Jakarta, Bukan tak Mungkin
 yusro m. santoso25 Mei 2010, 20:5710 komentar di Kategori: Umum

Banyak pihak, termasuk B2W berharap Jakarta memiliki bike line, alias jalur sepeda. Jalur ini lah yang akan dipakai oleh kaum pekerja menuju kantor mengendarai kereta angin.

Harapan itu agaknya masih jauh, ketika Bang Foke jelas-jelas tek memprioritaskan sebagai salah satu moda angkutan. Bahkan, Rachmat Witoelar, Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia, ketika berbincang-bincang saat peresmian Rumah Sepeda Indonesia, beberapa hari lalu, bilang "Sejak beberapa tahun lalu saya sudah bicara dengan Presiden, bahwa kita perlu mendesain bypass untuk sepeda. Walaupun di Jakarta itu akan susah, paling tidak seperti di pinggiran Jakarta bisa dilakukan," katanya.

Baiklah, susah kan bukan berarti tidak bisa dibuat tho? Begini, Bang Foke, sebenarnya saat ini benar-benar lagi pusing memikirkan kemacetan lalulintas di DKI. Dalam sebuah seminar dia mengungkapkan data bahwa di DKI ada sekitar 6,5 juta kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan. Sedangkan prakiraan pertambahan sepeda motor per hari adalah 890 unit dan mobil 240 unit. Bayangkan bila 20% dari pertambahan kendaraan itu terserap di DKI, betapa semakin macetnya jalanan di Ibukota.

Uniknya dari 6,5 juta kendaraasn yang ada di DKI itu, ternyata 98% merupakan kendaraan pribadi. Kendaraan umum hanya 2%. Nah kendaraan umum yang secuil itu ternyata bisa memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk sekitar 60%.

Nah tantangan buat kaum bersepeda, khususnya B2W adalah memberikan data yang akurat kepada Pemda DKI. Dengan memposisikan sebagai Rumah Sepeda Indonesia, “berkewajiban” merangkul semua penggowes, dari komunitas mana pun. Bergandeng tangan dengan banyak kalangan untuk terus menyebarkan “virus” bersepeda bisa menjadi prioritas agenda. Melalui fitur pengelolaan anggota yang ada di situsnya, B2W berpotensi memetakan data, tak cuma jumlah penyepeda, tapi lengkap dengan demografinya.

Pada saatnya, bisa satu, dua, tiga tahun lagi. Atau malah sebelum itu terjadi lonjakan yang eksponensial jumlah penyepeda ke kantor, katakanlah di DKI ada 1 atau 2 juta orang, maka B2W, tinggal bilang ke Pemda. “Saat ini setiap hari, dari Jakarta Pusat ada sekian penyepeda di Jakarta selatansekian, Barat sekian, Timur sekian, Utara sekian, dan dari wilayah  penyangga DKI sekian.”

Dengan memiliki data yang akurat itu, saya kok yakin, Bang Foke akan mencukur kumisnya dan datang ke Rumah Sepeda Indonesia. “Oke Oom dan Te sekalian, Pemda DKI akan membuatkan Bike Line,” ujar Bang Foke. Dia tentu tak asal membuatkan jalur sepeda, dasarnya jelas. Dengan 500 ribu penyepeda ke kantor saja di DKI, setidaknya akan mengurang peredaran mobil dan motor yang cukup berarti. Apalagi kalau sampai 2 juta.

Masalahnya adalah, sudahkah warga http://b2w-indonesia.or.id/ mengisi data lengkap di profil masing-masing? Kelengkapan data ini akan menjadi mantera ampuh ketika pada saatnya B2W berbicara hati ke hati dengan Pemda DKI, soal jalur sepeda. Mari, lengkapi data. Eh, baru ingat, saya juga belum ngengkapi data, baru suka ganti foto profil dan update status saja. big grin

 

*Foto diambil tanpa permisi dari sini

 

 

Tag: Umum , bike line , jalur sepeda , b2w , pemda DKI , pada saatnya jalur sepeda pasti dibuat , KontesNote

 

Yang merating Note ini:


10 Komentar
Jika merujuk Negeri Belanda, maka jalur sepeda memang bisa memotong lajur dan ruas tertentu. Itu dimungkinkan karena tertib lalu lintas sudah mengakar.

Kalau diterapkan di sini, tanpa sosialisasi memadai, maka sepeda motor bahkan mobil akan menabrak sepeda. Bahkan bukan tidak mungkin pengendara motor akan memanfaatkan lajur sepeda karena terhadap trotoar pun mereka tega memerkosanya.
Saya juga belum melengkapi data.. hihihih.. Tapi saya juga gak terlalu pusing sama bike-lane, lebih pusing kalau tidak ada kamar mandi di kantor. Kalau data2 kita lengkap, harusnya kita bisa mengajukan ke PemDa agar semua gedung memfasilitasi tempat mandi yang cukup untuk pesepeda ke kantor.
@arie Biar pemakaian ruang dan air hemat, mandi bisa bareng-bareng....Ouuch! Soal fasilitas sih bisa dimulai dari yang sederhana: tempat parkir khusus sepeda yang memadai di semua kantor pemerintah, mall, stasiun, terminal, dan sebagainya. Kalau perlu ada peraturan: syarat pengelola parkir di mall harus menyediakan sekian persen lahan parkir untuk parkir sepeda gratis.
@Antyo Rentjoko: Sepeda motor silakan pake jalur sepeda, asal mesin dimatikan batting eyelashes
@arie: buruan lengkapi data, bonus tas lengkap dengan map CV big grin
Alhamdulillah sudah saya isi lengkap sejak gabung Facebike big grin
Setuju bahwa data akan menjadi "bargain power" ke pemerintah untuk menyediakan fasilitas bagi pesepeda. Bahkan sebelum jauh2 ke bikelane, dgn data yg ada saja sebetulnya sudah bisa menuntut pemda untuk mengeluarkan perda bagi pengelola gedung untuk menyediakan parkir khusus bagi sepeda dan -syukur2- fasilitas ganti baju/mandi.

Notes apik, oom @orsuy
Sayangnya tidak semua pekerja bersepeda mengenal atau menggunakan internet, jadi sebetulnya jumlah pekerja bersepeda jauh lebih banyak dari jumlah yang mengisi data lewat rumah dunia maya ini
Betul sekali "tidak semua pekerja bersepeda mengenal atau menggunakan internet" apalagi yang sudah lansia.

Alangkah baiknya waktu sensus penduduk juga ditanyakan dan sekalian dicatat ada berapa sepeda di tiap rumah.

Misalnya di perumahan Lippo Karawaci cukup banyak rumah yang punya sepeda.
wah, gambar yg kubuat 4 tahun lalu dipilih buat dipake jadi ilustrasi note ini big grin, bangga juga rasanya hihihi..., makasih udah milih gambar itu ya, oom

dan salam kenal smile
Lakukan Login untuk memberikan komentar.