Nana Podungge

Menarik +4 rating

Gowes ke Ungaran lewat Gunung Pati
 Nana Podungge04 Juli 2012, 19:003 komentar di Kategori: Umum

 


GOWES KE UNGARAN LEWAT GUNUNG PATI: 

Ngerjain Ranz dengan Feby, si centil BMX smile

 


 


tanjakan pertama, di Manyaran

 



 


Libur akhir tahun ajaran yang kutunggu – untuk bisa berbikepacking – akhirnya tiba tanggal 17 Juni 2012. Namun ternyata liburku yang “hanya” dua minggu itu tidak bisa kunikmati secara full. Pertama, di minggu pertama
libur, aku masih harus masuk kerja di kantorku yang sore hari. Kedua,
keponakanku yang masih sangat imut – berumur satu tahun – masuk rumah
sakit kena dengue fever. Sebagai ‘auntie’ yang jarang ikut memomongnya
karena kesibukanku bekerja pagi dan sore, mumpung libur aku
mem’volunteer’kan diri untuk nungguin dia dan nyokapnya – yang adik
bungsuku – seharian di rumah sakit. Akhirnya yahh ... dari pada tidak
gowes ‘rada jauh’ sama sekali, sementara liburanku hampir selesai, aku
memutuskan untuk mencoba track Pusponjolo – Manyaran – Gunung Pati –
Ungaran pada tanggal 29 Juni 2012.

 


Sudah cukup lama aku tahu beberapa teman komunitas b2w Semarang mencoba track ini, beberapa tahun lalu, namun aku belum pernah pede untuk ikutan mencobanya. Tahun ini, dengan pengalaman bikepacking ke beberapa kota dengan track variatif (terutama waktu nanjak Tawangmangu di akhir Desember 2011), aku pun pede. big grin. Dan seperti biasa, Ranz pun mendampingiku. ‘Masalahnya’ adalah, Ranz sama sekali ‘buta’ track yang akan kita hadapi. tongue Maka, waktu berangkat dari Solo, dia tidak membawa serta Shaun (seli dahon da bike 16&rdquowink maupun Pockie (seli pockrock 20&rdquowink yang biasa dia ajak touring. Sepeda Ranz yang ada di Semarang adalah sepeda BMX. tongue

 


 


Grand Green Wood housing estate

 


 


nunut narsis doang di GGW smile

 


Jumat 29 Juni 2012. Kita mulai menyusuri Jalan Pamularsih sekitar pukul
06.30. sempat mampir di sebuah mini market untuk membeli air mineral dan
 dua potong roti (yang ternyata tidak enak smile ) untuk mengganjal perutku
 (karena Ranz ga suka roti). Tanjakan pertama – Manyaran – yang telah
kucoba tanggal 24 Juni 2012 yang lalu kulalui dengan mulus. Ranz yang
kelaparan (sejak Kamis malam dia ga makan), plus ‘hanya’ naik BMX
menapaki tanjakan yang lumayan tajam ini dengan slow but sure. (Aku
belum pernah merasa seperkasa ini dibandingkan Ranz di tanjakan.
Wkwkwkwk ...)

 


 


tanjakan di depan?
mejeng duluuu tongue

 


Lewat tanjakan Manyaran, kita lanjutkan hingga di pertigaan antara Panjangan – Gunung Pati – Jatibarang. Jika tanggal 24 Juni lalu aku lurus ke arah Jatibarang, kali ini aku dan Ranz belok kiri ke arah Gunung Pati. Tak terlalu jauh dari pertigaan itu, kita sampai ke turunan yang lumayan tajam yang di ujung turunannya kita harus melewati sebuah sungai dimana di atasnya kurang lebih 5 meter ada sebuah jembatan (darurat karena sedang diperbaiki) yang terbuat dari bambu (yang tidak rapat) padahal di atasnya kendaraan yang lewat penuh sesak, mulai dari motor, mobil, bahkan bus.
Iring-iringan kendaraan itu rapat sekali, aku dan Ranz ‘diapit’ kendaraan bermotor depan belakang. Aku langsung mengkhawatirkan Ranz yang phobia ketinggian dan air. Setelah melewati jembatan, kita terus dimanjakan dengan turunan yang membawa kita ke daerah permukiman elit “Grand Green Wood”. Saatnya bernarsis-ria! smile

 

 


 


tanjakan plus belokan, menu utama! big grin

 

 


Usai narsis di depan kamera dan makan satu buah roti plus minum, kita
melanjutkan perjalanan. Setelah dimanjakan dengan turunan tajam,
perjalanan berikutnya kita harus menempuh tanjakan curam. Bisa
dibayangkan perumahan GGW ini terletak di ‘lembah’ antara dua buah
bukit; keluar dari perumahan, mau ke arah Selatan maupun Utara, kita
harus melewati tanjakan curam.

 



plang penunjuk Vihara Gunung Pati

 


 
di halaman dalam vihara

 


Dan ternyata tanjakan itu bukan tanjakan terakhir. Track kita selanjutnya
ya tanjakan dan turunan tajam yang terus berulang-ulang. Di catatan
sports tracker di hape, tercatat tanjakan yang paling tinggi mencapai
405 m dpl. Coba jika track ga pakai turunan (misalnya nanjak, kemudian
datar, kemudian nanjak lagi, dst), sudah berapa meter di atas permukaan
laut ya aku dan Ranz nanjak? Hihihihi ... Nglimut kalah daahh. smile

 

 



di halaman dalam vihara

 

 


 

dengan patung Dewi Kuan Im sebagai latar belakang

 


Ketika melewati Vihara Gunung Pati, kita mampir untuk ... N-A-R-S-I-S!
Horrayyyy. LOL. Ga lama, setelah beberapa jepret di vihara yang sunyi
dan damai itu, kita langsung melanjutkan gowes.

 


 


salah satu pemandangan di tengah perjalanan smile

 


 

nanjak lagiiii smile

 



lagi-lagi tanjakan!

 


Berhubung Ranz ga tau aku pengen mampir ke pemancingan Ngrembel Asri (karena aku tahu Ranz ga begitu suka makan ikan), mungkin dia bener-bener mikir aku ngerjain dia yang naik BMX nanjak ‘gunung’, tanpa kuajak makan sama sekali. Hihihihi ... Kadang dia meringis geli kena kukerjain, kadang dia
 ngomel, “Hadeehhh ... kapan tanjakannya habis?” LOL. Namun dia tetap
bergeming. Padahal banyak kendaraan umum yang lewat, dan kita terus
gowes, tak tergoda untuk loading. big grin

 

 


 

indahnya tanah airkuuuu smile

 



what a scenery!

 


Ketika sports tracker menunjukkan jarak 16.5 km dari awal aku menghidupkannya (NOTE: Cuma 16,5 km, tapi track yang full tanjakan dan turunan tajam memaksa kita butuh waktu berjam-jam untuk mencapainya, mana Ranz naik BMX pula, jalannya lelet! Oke, jadikanlah Ranz dan Feby sebagai ‘black sheep’. xixixixi), sampai lah aku dan Ranz di pemancingan Ngrembel, yang memiliki semboyan “one stop recreation” karena tempat ini selain menyediakan pemancingan dan restoran juga menawarkan beberapa games, dari pinball, flying fox, bungee trampoline, kolam renang, dll. Begitu
tahu aku mengajak mampir untuk makan, wajah Ranz langsung terlihat
sumringah. Hahahaha ... waktu menunjukkan pukul 10.00. Ranz langsung
sangat excited berfoto-ria di depan tulisan NGREMBEL ASRI dan harapan
perut kosongnya akan segera terisi. LOL. Meski tidak suka makan ikan,
Ranz masih mau jika ikan itu dibakar.

 



lovely ... lovely view!

 


 
akhirnya!
sampe Ngrembel Asri.

 



area pemancingan Ngrembel Asri

 


Kita sarapan (‘brunch’ lebih tepatnya) dan beristirahat di Ngrembel sekitar
dua jam. Lepas tengah hari kita melanjutkan perjalanan dan kita langsung
 disambut dengan tanjakan! Dan ternyata sarapan satu piring nasi + ikan
bakar + gudangan dan minum es kelapa muda melipatgandakan tenaga Ranz.
Di tanjakan selepas Ngrembel, Ranz melesat di depanku. Ck ck ck ck ...
LOL.



setelah 'brunch', mari melanjutkan perjalanan smile

 



mau gowes kemanaaa?
tinggal pilih arah kiri atau kanan smile

 



 


 

ayo ngonthel teruuuusss

 



 


Kurang lebih dua kilometer dari pemancingan Ngrembel Asri, kita sampai di
pertigaan antara Gunung Pati – Boja – Ungaran. “Ayo kalau kamu mau
lanjutin ngerjain aku, kita belok kanan ke arah Boja, kita ke Nglimut!”
Tantang Ranz. Aku tertawa, tidak menanggapi tantangan itu sambil terus
belok kiri menuju arah Ungaran.

 



narsis jalan teruuusss

 


Lepas dari pertigaan itu, penunjuk jarak menunjukkan kita masih berada di 8 kilometer dari pusat kota Ungaran. Dan ... ternyata track tetap sama:
tanjakan dan turunan tajam! Meski mulai lelah dan bosan dengan track
yang tanjakan dan turunan melulu, aku menjalaninya dengan tabah. Mau
gimana lagi? Perjalanan ini atas ideku. Matahari yang kian meninggi
sehingga tantangan kian terasa ternyata akhirnya membuat Ranz mengeluh.
“Aku sudah bosaaan! Bukannya harusnya Gunung Pati lebih tinggi dari pada
 Ungaran? Lha kita meninggalkan Gunung Pati mengapa masih terus nanjak
melulu? Kapan selesainya tanjakan ini?” Terus terang aku ga tahu. Maka
aku hanya menggeleng, merasa (sedikit) bersalah. tongue Masalahnya ya
itulah, usai tanjakan, langsung turunan menyusul. Tanjakan – turunan.
Terus menerus begitu. Ga ada jalan datar. Meskipun begitu, semoga ga ada
 ide untuk mengepras tanjakan-tanjakan ini agar menjadi lebih ‘ramah’
(baca è landai) kepada pengguna jalan. (Konon, tanjakan ‘Esperanza’ di
daerah Ngaliyan Semarang telah mengalami pengeprasan agar tidak terlalu
tinggi.) Manusia sudah cukup melakukan kerusakan pada alam. Wew.

 


 


pagoda Avalokitesvara Buddhagaya

 



 


Akhirnya kita sampai juga di pasar Ungaran. Kita lewat jalan raya Ungaran –
Semarang dimana kita malah langsung berhadapan dengan sinar matahari.
Jalanan cukup ramai hingga suara kendaraan bermotor pun bising.

 


 


Kwan Sie Im Po Sat

 



Ranz in action smile

 


Ketika lewat Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong, kita menyeberang jalan untuk mampir. Saatnya bernarsis ria lagi. Hehehehe ... Meski tentu selalu lewat Pagoda ini dalam perjalanan Solo – Semarang – Solo, Ranz belum pernah mampir. Maka kita puas-puasin ‘berwisata religi’ di tempat ini. smile

 


 




Pagoda Avalokitesvara diresmikan oleh Mardiyanto (yang waktu itu menjadi
gubernur Jawa Tengah) pada tanggal 14 Juli 2006 dan terbuka untuk umum,
untuk semua agama, baik pengunjung yang datang untuk beribadah maupun
sebagai turis dan tidak perlu membeli tiket masuk.

 



salah satu tiang

 



patung Buddha berbaring di bawah pohon Bodhi

 


Dari Pagoda Avalokitesvara kita terus masuk kota Semarang, meluncur turun
memasuki daerah Banyumanik, Sukun, Gombel, Jatingaleh, Kaliwiru, Tanah
Putih, Sriwijaya, Pahlawan, dan berhenti di Taman KB untuk menikmati
sepiring rujak buah.
Dari sana kita kembali ke tempat tinggal masing-masing. smile

 


Biking one full day is better than nothing, ain’t it? smile

 


PT56 20.53 020712

 

 

Tag: Umum , nanapodungge , b2wSemarang

 

Yang merating Note ini:


3 Komentar
waah photo nya besar besaaar big grin
@ananda ranranz: waah photo nya besar besaaar


foto-fotomuuuuu ^^
wah kalau ada kesempatan boleh dunk gowes bareng , rute aku ngikut aja ,,,,,,,,,
Lakukan Login untuk memberikan komentar.

 

Note terkait:

Bikepacking; what on earth is that?
07 Mei 2013, 19:48
Bikepacking Solo - Purwokerto (Day 4 & 5)
01 April 2013, 17:03
Happy 3rd anniversary Komselis
30 Oktober 2012, 20:49