Oettie Notosapoetro

Penting +3 rating

Rindu Ini Menyesakkan!
 Oettie Notosapoetro27 Mei 2010, 16:303 komentar di Kategori: Umum

Potongan-potongan kenangan berkelebat, kadang cepat, lebih banyak lambat, seperti mengejekku. Betapapun kerasnya aku berusaha menekan kenangan itu di sudut terjauh benakku, kelebatannya tak juga berhenti mengangguku. Dan aku tak suka efek yang ditimbulkannya. Seperti ada yang meremas jantungku, mendesaknya hingga ke ulu hati.

Cukup lama aku berusaha menghindar dari pemandangan yang akan membuat kenangan itu muncul lagi. Bahkan belajar mengabaikannya bila pemandangan yang kutakuti hadir tak terhindarkan, menganggapnya kejadian tak mengenakkan biasa seperti yang kita alami sehari-hari. Dan usahaku tak bisa dibilang setengah-setengah, malah dengan sejuta cara.

Sampai akhirnya aku lelah. Lelah berpura-pura, Lelah menipu diri sendiri. Lelah bersembunyi. Rinduku mematahkan hati. Menghindar ternyata tak mengobati.

Dan pada saat aku memutuskan untuk berhenti dan kembali membuka hati, aku mengawalinya dengan hadir di peresmian Rumah Sepeda. Tadinya aku berpikir semuanya akan mudah saja. Aku salah.

Melihat begitu banyak orang yang bersemangat datang mengayuh sepeda dengan wajah cerianya, hatiku ciut. Bukan aku namanya bila tak bisa menyembunyikan galauku dibalik tawa canda dan cela. Tapi sejujurnya, aku menangis dalam hati.

Aku rindu bersepeda lagi!

Ingin kuteriakkan kata-kata itu sampai habis suaraku. Sungguh aku ingin. Untukku, bersepeda lagi tak semudah membuat tulisan ini. Menyemangati diri sendiri jelas bukan keahlianku. Memerangi diri sendiri, itu apalagi. Tak lama waktu yang kuhabiskan diantara orang-orang itu. Meskipun rumah itu membuatku nyaman, wajah-wajah ceria mereka menikamku habis-habisan. Aku memilih pergi.

Memandang dua sepeda, yang hanya dengan kuasa-Nya dapat bertengger kembali di tempatnya semula,, sekaligus kedua-duanya, membuatku tergugu. Seharusnya mereka sudah tak ada. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa apapun yang terjadi akan terjadi bila sudah tiba saatnya. Karena itu aku tak hendak memaksakan diri. Hingga saat ini aku masih tak yakin apa yang akan kuperbuat dengan keduanya.

Apapun yang nanti jadi pilihanku, melepas atau mempertahankan mereka, hanya satu yang aku tau, aku akan kembali. Menjejakkan roda-roda sepedaku di aspal, di tanah, kemanapun kuingin pergi. Sekarang atau nanti, aku punya janji, rindu yang menyesakkan ini akan terobati. Ya, suatu hari nanti kan kujalin lagi kenangan baru, kenangan indah bersama sepedaku yang akan kusimpan dengan senyum, bukan lagi sesak di hati…

 

*Percayalah ini hanya cerita fiksi, sama sekali bukan curahan hati.

 

 

Tag: Umum , catatan sepedaku

 

Yang merating Note ini:


3 Komentar
Riii…iindu
Mengapa rindu hatiku tiada tertahan
Kau tinggalkan daku seorang

Riii…iindu
Mengapa rindu hatiku tiada tertahan
Kau tinggalkan daku seorang

Engkau pergi tiada pesan
Kabar darimu ku nantikan
Karna janji pun kau lupakan
Meranalah aku seorang

Akan kucari walau kemana
Ingin aku berkelana
Ke ujung dunia engkau kucari

Kalau hatiku sedang rindu
Pada siapa ku mengadu
Karna hati bertanya selalu
Berlinanglah air mataku

--------------------------

Daripada gak ada yg komen kan hahaha ...
eeh.. ngg.. ini cerita yang.. mmm.. duh... ya udah.. maaf.. salah kayaknya.. *jinjit2*
Syukurlah hanya cerita fiksi, kalau cerita real apakah perlu Oma Nita ikut membantu sambil bawa puding pepaya?
Lakukan Login untuk memberikan komentar.