denmpoer

XTR +14 rating

ROGAD Turing - Jakarta - Lampung
 denmpoer25 Juni 2010, 16:0014 komentar di Kategori: Umum

Repost from rogads.wordpress.com

(foto-fotonya belum sukses di upload, bisa dilihat di rogads.wordpress.com)

Pendahuluan

Berawal dari pembicaraan yang terjadi pada saat berkumpul dan bercanda yang khas ROGAD, tiba-tiba entah dari mana dan siapa muncul ide untuk Touring ke Lampung. Segera ide untuk melakukan perjalanan touring dengan sepeda dengan tujuan Lampung itu disambut MASIH dengan nada guyonan.

Mungkin pada saat itu pada benak masing-masing mulai bermunculan beberapa pemikiran ; berapa hari ya kira-kira ? enaknya bolos atau cuti? Pake Sepeda MTB atau seli, berapa besar bekal yang harus disiapkan?

Singkat cerita akhirnya diputuskan untuk berangkat pada Hari Jum’at tanggal 8 Januari, dengan pertimbangan cuti atau bolos cuma satu hari kerja dan pilihan jatuh pada sepeda lipet dengan pertimbangan lebih flexible pada saat pulang dari Lampung ke Jakarta.

Hari Pertama

Jum’at pagi tanggal 8 meeting point di STEKPI kalibata, dimulai dengan briefing rute yang akan dilewati, tujuan akhir, dan beberapa kemungkinan lainnya seperti HUJAN, atau hal-hal lain yang tidak kita inginkan.

 
Dimulai dengan do’a bersama akhirnya kami berdelapan dengan menggunakan sepeda lipet ditambah satu orang pengantar yang menggunakan MTB start dari STEKPI Kira-kira jam 08:30 dengan rencana PIT STOP pertama sekitar Tangerang. Dari arah kalibata kami menuju tangerang melewati kebayoran kemudian ciledug.

Kondisi cuaca mendung sepanjang Kalibata – Tangerang, jadi kami mulai menyiapkan jas hujan untuk jaga-jaga. Dan ternyata benar menjelang masuk kota Tangerang hujan mulai turun namun tidak terlalu deras, akhirnya kami putuskan untuk terus untuk mencari Mesjid untuk PIT STOP pertama dan melakukan shalat jum’at

Memasuki kota Tangerang kemudian Cimone kami terus mengayuh sepeda pambil mencari Mesjid di pinggir jalan. Ternyata tak banyak Mesjid yang berada tepat di pinggir jalan, akhirnya sekitar JATAKE kami coba mengikuti orang-orang yang menurut perkiraan kami akan menuju Mesjid dan kami pun bertanya letak Mesjidnya di mana untuk kemudian melakukan shalat jum’at.

Setelah re-Packing di lingkungan Mesjid tibalah saatnya untuk mencari tambahan tenaga, MAKAN SIANG, mulailah bermunculan ide makan apa? Ada yang kepengen makan yang berkuah, ada yang ingin makan WARTEG saja. Ternyata tidak mudah menyatukan selera, akhirnya setelah kurang lebih 5 KM dari Mesjid kita baru menemukan tempat makan yang dapat memuaskan kami yaitu WARTEG yang juga menyediakan SOTO.

PIT STOP selain kami gunakan untuk menambah tenaga juga kami gunakan untuk kembali menyetel sepeda kami, memperbaik REM, membersikan kemudian melumasi Rante dan tentunya re-Packing bawaaan kami.

Setelah semua siap, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan tujuan PIT STOP berikutnya kota SERANG melalui Cikupa-Balaraja-Tigaraksa-Cikande.. Rupanya kondisi cuaca menguji kami, belum berapa lama kami mengayuh sepeda hujan turun dengan sangat derasnya, akhirnya kami berhenti sambil menunggu hujan reda.

Setelah hujan agak reda, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju kota Serang cukup landai dengan diselingi beberapa tanjakan. Dikarenakan kawasan sekitar Tangerang sampe Tigaraksa merupakan daerah Industri dengan pabrik-pabrik, maka sepanjang perjalanan kami harus lebih hati-hati karena selalu harus berhadapan dengan truk gandeng, truk kontainer dan bis karyawan. Terkadang kami harus mengalah sampe ke badan jalan karena mungkin kami dianggap tidak ada di jalan.

Akhirnya menjelang sore kami sampai di gerbang kota Serang. Kemudian kami mencari terminal bis untuk yang akan mengantar satu orang pengantar yang akan pulang ke Jakarta. Padahal kami sudah berusaha mengajak untuk terus melakukan perjalanan sampai Lampung atau Merak. Tetapi rupanya rayuan kami tidak berhasil, akhirnya setelah mendapatkan bis yang akan mengantar pulang ke Jakarta, kamipun berpisah.

Dikarenakan hari mulai gelap, waktu menunjukkan pukul 19:00 akhirnya kami memutuskan untuk kembali mencari tambahan tenaga. Lagi-lagi terjadi perdebatan yang seru untuk memutuskan mau makan di mana, dan akhirnya pilihan tidak berubah untuk makan di WARTEG.

Setelah kami rasa cukup waktu untuk istirahat dan kembali menyetel sepeda, kemudian re-packing, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan tujuan akhir hari pertama yaitu Pelabuhan Merak melewati Cilegon.

Kondisi jalan dari Serang menuju Cilegon jalanan relatif ramai lancar, namun agak gelap sehingga kami harus lebih hati-hati dalam mengayuh sepeda kami. Kontur jalan yang lumayan naik turun cukup menguras tenaga kami, tetapi tetap tidak menyurutkan semangat untuk terus melanjutkan perjalanan. Akhirnya sekitar 1 jam perjalanan, kami mulai bersemangat kembali ketika melihat gerbang Selamat Datang di Kota Cilegon, yang berarti kami sudah tidak jauh dari tujuan akhir hari pertama.

Dari informasi yang kami dapatkan jarak Cilegon sampai pelabuhan kira-kira 15 KM. Jalanan lumayan gelap ditambah Cuaca yang sangat mendung dan sesekali bunyi petir, dan kami sekali lagi harus berbagi jalan dengan Truk dan Bis yang juga menuju pelabuhan.

Perjalanan dari Cilegon ke pelabuhan ternyata menjadi titik balik, semangat kami untuk cepat sampai ke tujuan harus berkompromi dengan kondisi tubuh kami yang mulai lelah setelah hampir setengah hari mengayuh sepeda.

Waktu menunjukkan pukul 21:30 malam, dan rupanya sekali lagi kondisi cuaca yang mulai kurang bersahabat menguji kami. Kira-kira 7 KM lagi menjelang pelabuhan hujan turun dengan sangat derasnya diselingi petir yang menyambar. Kamipun tidak punya pilihan lain selain terpaksa berhenti untuk menunggu hujan reda.

Setelah hujan agak reda, akhirnya dengan semangat terakhir kami kembali mengayuh sepeda untuk sampai di pelabuhan. Dengan kondisi yang lumayan basah kuyup kami mencoba mencari tempat untuk sekedar mandi dan berganti pakaian sebelum kami naik kapal untuk menyebrang ke Lampung. Dengan pertimbangan masih hujan akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat mandi di sekitar pelabuhan saja agar bisa langsung naik ke kapal.

Setelah beberapa dari kami membersihkan diri di sekitar pelabuhan, kami pun mulai bertanya ke petugas pelabuhan apakah kami boleh membawa sepeda melalui gerbang penumpang(orang ) atau kami harus melalui gerbang mobil atau motor yang berarti kami harus sedikit memutar lagi. Oleh petugas kami diperbolehkan melewati gerbang penumpang setelah kami berargumen bahwa sepeda kami bisa dilipat.

Akhirnya kami pun bisa naik kapal dan segera setelah parkir sepeda di tempat yang aman, masing-masing kami mencari tempat untuk sekedar istirahat dan tidur untuk mempersiapkan perjalanan hari ke dua.

Resume hari pertama :

  • Rute Jakarta-Ciledug-Tangerang-Cimone-Cikupa-Tigaraksa-Serang-Cilegon-Merak
  • Jarak kurang lebih 120 KM
  • Waktu tempuh Start Kalibata 08:30 sampai di merak 24:00
  • Kontur jalan relatif datar diselingi beberapa tanjakan landai , jalan relatif mulus.

Hari kedua

Wow,, akhirnya sampai juga di Bakauheni, setelah terombang-ambing di selat sunda selama kurang-lebih 2,5 jam. Karena hari masih terlalu pagi akhirnya kami memutuskan untuk kembali mencari tempat istirahat di dalam pelabuhan untuk melanjutkan istirahat di kapal. Di lobi pelabuhan rupanya banyak juga orang-orang yang tidur lesehan di lantai, rupanya mereka menunggu siang sambil menunggu bis yang menuju kota lampung datang.

Kira-kira jam 5 pagi, kamipun mulai bersiap-siap untuk mencari tempat mandi, karena beberapa dari kami belum sempat mandi di merak, dan juga untuk mencari sarapan pagi. Tidak jauh dari parkiran pelabuhan ada tempat mandi yang lumayan bersih, akhirnya kamipun bergantian untuk mandi dan ganti baju.

Setelah sarapan semangkuk Bubur Kacang Ijo dan kopi serta teh manis, kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke kota Bandar Lampung. Terus terang hampir semua dari kami buta dengan kondisi jalanan dari Bakauheni ke Lampung. Ada yang sudah pernah beberapa kali melakukan perjalanan darat tetapi menggunakan mobil atau bus yang pastinya beda.

Lagi-lagi kami harus berhadapan dengan Truk gandeng dengan muatan yang menjulan dan bis-bis antar kota yang ternyata sudah siap keluar dari pelabuhan.

Keluar dari gerbang pelabuhan, kami langsung dihadapkan pada jalan tanjakan yang curam dengan kemiringan kira-kira 50 derajat, dan masih terus menanjak terlihat dari bawah. Keadaan ini cukup membuat kami terkaget-kaget karena kami persedian air dan makanan kecil kami sudah habis dan kami belum sempat membeli lagi.

Sampai di tanjakan pertama, kembali kami dikejutkan dengan papan penunjuk jalan yang memberi tahu jarak kota Bandar Lampung adalah 97 KM. Tidak ada pilihan lain kami harus LANJUT sesuai dengan rencana.

Setelah refill perbekalan, kami melanjutkan perjalanan. Tanjakan demi tanjakan kami lalui dengan tenaga dari semangkuk bubur kacang ijo dan sepotong coklat. Hampir 15 KM pertama adalah tanjakan dengan kemiringan 35 sampe 50 derajat dan tanjakan landai namun panjang. Mulai dari sini rombongan mulai sedikit terpecah, karena masing-masing menggunakan teknik masing-masing untuk melahap tanjakan demi tanjakan yang mau nggak mau harus dilewati.

Beruntung hari masih pagi dan matahari belum terlalu ganas sehingga sedikit membantu kami dalam mengayuh sepeda. Tetapi tetap saja ritme kayuhan kami tergangu oleh Truk dan Bus yang sering memepet kami sehingga kami harus mengalah sampai ke badan jalan yang penuh dengan kerikil dan tanah basah.

Rencana PIT STOP pertama adalah Kalianda, kira-kira 55 KM dari Bakauheni, tetapi dengan melihat kondisi jalanan yang terus menanjak di selingi beberapa turunan yang tetap saja kurang bisa dinikmati karena kita harus berhadapan dengan Truk dan Bus, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti mencari tempat makan. Beruntung kami menemukan tempat makan yang menyediakan bale-bale bambu untuk sekedar tiduran dan kamar mandi yang lumayan bersih.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kami, beberapa dari kami kembali tertidur pulas, atau malah mungkin bermimpi sudah sampai di Lampung. Lumayan lama kami berhenti di tempat makan ini. Cuaca mulai terasa menyengat, matahari mulai meninggi, beberapa dari kami mulai membongkar bawaan dan menjemur pakaian dan sepatu yang basah terkena hujan di Merak.

Setelah merasa cukup beristirahat dan mengisi perut, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi masih harus melahap tanjakan demi tanjakan yang panjang dan kondisi jalan yang cukup panas. Tetapi kami sedikit mendapat semangat dari anak-anak yang berlarian ke pinggir jalan dan berteriak ‘ Hello Mister, Hello Mister’ dan juga beberapa supir Truk yang mengacungkan jempol. Rupanya mereka heran dan mungkin jarang melihat rombongan sepeda lewat

Karena kondisi jalanan yang relatif menanjak rombongan kembali tercecer dalam beberapa group. Waktu menunjukkan sekitar jam 2 , akhirnya kami sampai di gerbang kota Kalianda. Kamipun beristirahat untuk sekedar melepas lelah dan re-grouping.

Kamipun mulai berhitung : Jarak Bakauheni – Bandar Lampung = 97KM, kami sudah menempuh 55 KM, jadi sisa perjalanan adalah 42 KM dengan rata-rata waktu tempuh 20Km per jam kami beranggapan bisa sampai di Bandar lampung menjelang sore . Jadi kami SKIP makan siang.

Ternyata dugaan kami sedikit meleset, sisa perjalanan masih harus kami lewati dengan tanjakan yang panjang dan menguras tenaga. Beruntung setelah melewati Kalianda cuaca agak mendung diselingi hujan yang tidak terlalu deras namun berlangsung hanya sekitar 5-10 menit. Kondisi ini lumayan membantu menyiram uap panas yang keluar dari aspal jalan yang sebelumnya terkena terik matahari.

Setelah melewati daerah Sidomulyo mulailah terlihat jejeran pohon kelapa di sebelah kiri jalan. Asyikk kami pun berteriak berarti sebentar lagi terlihat pantai dan jalanan mulai datar. Rupanya lagi-lagi anggapan kami salah,, tanjakan demi tanjakan harus kami lalui, walaupun menurut penduduk setempat yang memberitahu kami selalu mengatakan ini tanjakan terakhir.

Setelah hampir 2 jam melewati FATAMORGANA jejeran pohon kelapa akhirnya kami menemukan turunan yang sangat curam dan terlihatlah di seberang sejajar dengan jalan yang kami lewati LAUT atau pantai. Lokasinya sebelum memasuki daerah Tarahan. Dengan view yang sangat indah dan terang karena habis diguyur hujan laut nampak sangat indah diselingi pulau-pulau kecil

Pemandangan ini sangat menghibur kami, kami lupa dengan rasa lelah setelah melewati jalanan yang menanjak dan tentunya menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan sampai tujuan akhir.

Setelah puas memandangi panorama alam dan tak lupa berfoto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Lampung melewati daerah Tarahan dan Panjang. Kontur jalan cenderung menurun dan licin sehabis diguyur hujan. Jalanan mulai ramai karena sudah memasuki pinggir kota Bandar Lampung.

Memasuki gerbang selamat datang di kota Bandar Lampung, hari mulai gelap dan rasa lapar mulai menyergap kami. Masih sekitar 12 KM menuju pusat kota, rencana kami adalah mengunjungi salah satu kerabat team yang kebetulan tinggal di kota lampung. Setelah sampai di daerah Panjang, kami mengambil jalan sebelah kanan yaitu jalan Trans Sumatera ke arah Palembang melewati Kotabumi.

Hari bertambah gelap, dan rupanya jalanan yang kami lewati sangat tidak nyaman untuk dilewati oleh sepeda, selain gelap juga bergelombang, mungkin karena dilewati Truk dan Bus dengan muatan yang penuh. Lagi-lagi jalanan yang terus menanjak harus kami lewati, dan gerimis mulai turun. Kami harus lebih extra hati-hati mengayuh sepeda dan tentunya dengan tenaga yang tersisa.

Akhirnya kami sampai juga di perempatan Balok, yaitu perempatan ke arah Way Halim untuk terus ke Way kambas jika belok kanan, dan belok kiri ke arah kota. Kembali hujan turun sangat deras, kamipun berteduh di sekitar perempatan tersebut. Setelah hujan mulai sedikit reda, kami melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu kerabat. Dengan dikawal oleh motor kami melanjutkan perjalan dalam gerimis malam dan jalanan yang gelap dan berlubang. Kira- kira 5 Km dari perempatan, masih dengan beberapa tanjakan kami akhirnya sampai di rumah kerabat tersebut.

Setelah bersilaturahmi dengan tuan rumah, dan beruntung kami disediakan makan malam dan Teh Manis yang hangat, kamipun berpamitan untuk kembali arah menuju kota Bandar Lampung.

Waktu menunjukkan pukul 21:30, jarak ke kota Bandar Lampung adalah 6KM, harus kami tempuh ditemani gerimis. Rencana semula adalah kami akan mencari penginapan di seputaran kota dan kemudian pagi-pagi kami akan berkeliling kota dan mencari sekedar oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta.

Tetapi setelah kami mencoba mencari beberapa penginapan di daerah Jalan Raden Inten dan Jalan Kartini, kami tidak menemukan penginapan yang cocok. Akhirnya setelah kami berdiskusi segala kemungkinan, kami memutuskan untuk tidak menginap tetapi langsung pulang ke Bakauheni. Akhirnya kami mencari minuman hangat di sekitar Jalan Kartini, di mana jalan ini banyak tenda-tenda lesehan yang menyediakan makanan-dan minuman.

Sebagian dari kami mencoba mencari informasi penyewaan mobil untuk mengangkut kami ke pelabuhan, karena tidak jauh dari Jl Kartini ada pasar sayuran Bambu Kuning kami berpikir bisa mendapatkan mobil bak terbuka yang bisa kami sewa. Ternyata kebanyakan bak terbuka yang ada berukuran kecil sehingga tidak bisa mengangkut kami berdelapan dengan sepeda masing-masing. Setelah mencoba beberapa alternatif lainnya, dan mencoba bertanya ke beberapa orang yang kami temui di sekitar pasar, kami disarankan untuk mencoba ke arah jalan Trans Sumatera atau ke arah terminal Rajabasa yang katanya banyak mobil-mobil, truk dan bis yang akan ke pelabuhan yang bisa kita stop dan sewa untuk membawa kami ke arah pelabuhan.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke arah jalan Trans Sumatera, yang berarti kami kembali lagi menuju ke arah tempat kerabat kami sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 01:00 Pagi, dengan rasa kantuk dan cape yang mulai menggelayut dan hawa dingin serta hujan yang menjajah tulang kami pun kembali mengayuh sepeda ke arah jalan Trans Sumatera.

30 menit kami berjalan di kegelapan malam menjelang pagi, jalanan nampak kosong. Di sekitar Jl Antasari, jalan utama menuju jalan Trans Sumatera dari arah kota nampak sedang ada Balapan motor liar, kamipun sejenak jadi perhatian mereka, karena kami berjalan berderet delapan sepeda lipet dan masing-masing membawa panier di belakang sepeda. Mungkin mereka bertanya-tanya mau ke mana? Dan jam segini masih di jalanan? Akhirnya kami sampai di tujuan, dan kami mencari SPBU untuk sekedar ke kamar mandi dan mencari minuman hangat.

Setelah itu kami mulai bersiap siap, melipat sepeda masing-masing dan membereskan semua bawaan kami agar mudah pada saatnya nanti jika kami mendapatkan angkutan yang membawa kami ke arah pelabuhan.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya kami diperbolehkan naik salah satu Bus yang menuju Pelabuhan, kamipun segera naik dan langsung beberapa dari kami tertidur pulas di dalam Bus. Menjelang pagi kami sampai di Pelabuhan, dengan rasa kantuk dan cape yang menggila kamipun mencari kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci sepeda kami agar kelihatan bersih sebelum naik ke kapal. Kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh khas lampung yang tidak sempat kami beli di kota.

Akhirnya kapal pun membawa kami menuju Merak…

Resume hari kedua

  • Jarak Bakauheni – Bandar Lampung kira-kira 97 KM
  • Rute – Bakauheni – Kalianda- Sidomulyo- Tarahan- Panjang- Bandar Lampung
  • Jalanan relatif mulus dan menanjak sampai Tarahan setelah itu relatif datar
  • Lama perjalanan Start bakauheni 06:30 sampai di Bandar Lampung 20:00

Hari ketiga

Perjalanan di kapal sekitar 2,5 jam kami manfaatkan untuk tidur, kami sengaja mencari ruangan untuk lesehan agar kami bisa tidur dengan nyaman. Saking nyamannya ada yang susah dibangungkan oleh penjaga ruangan untuk membayar sewa .

Jam 10:30 kamipun sampai di pelabuhan Merak, rencana kami akan naik Bus menuju Jakarta. Tetapi akhirnya kami lebih memilih kereta api agar tidak perlu repot-repot lagi melipat sepeda dan juga ada tambahan barang berupa oleh-oleh. Kereta berangkat jam 14:00 dari stasiun Merak yang letaknya bersebelahan dengan pelabuhan. Kami memilih gerbong penumpang di belakang Lokomotip agar kami bisa duduk dengan nyaman. Dengan pertimbangan pengalaman kami waktu ke anyer sebelumnya, kami naik di gerbong barang, di mana di tengah perjalanan makin penuh sesak dengan barang berupa sayuran, buah-buahan bahkan ikan asin yang akan di bawa ke Jakarta.

Kereta Api ini memang kereta rakyat, dengan membayar Rp 5,500 anda akan sampai ke Jakarta, dan jangan salah kereta pun bisa berhenti selain di stasiun, beberapa kali nampak kereta berhenti di tengah sawah untuk mengangkut penumpang dan barang.

Memasuki Stasiun Cilegon, kemudian Serang dan Rangkasbitung kereta terus bertambah sesak, dijejali juga dengan pedagang asongan dan pengamen sepanjan jalan.

Menjelang Magrib, kami sampai di Stasiun Palmerah. Kemudian kami melanjutkan kembali mengayuh sepeda kami menuju ke arah Kalibata tempat kami memulai perjalanan dua hari yang lalu. Setelah minum Jahe dan Bakmie Jawa di tempat kami biasa berkumpul hari Rabu dan Jum’at kamipun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan selama tiga hari dari Jakarta-Lampung- Jakarta, dan mungkin mulai bermimpi tujuan Touring Berikutnya…

Biaya selama perjalanan ( di luar biaya pribadi )

  • Saweran @ Rp 100,000 X 8 = Rp 800,000
    • Makan + snack + minuman selama 2 hari
    • Biaya Kapal @ Rp 10,000 ( PP @ Rp 20,000 )
    • Biaya Bis Lampung – Bakaujeni @ Rp 20,000
  • Kereta Api Merak Jakarta @ Rp 5,500 + Rp 5,000 untuk bagasi

 

Tag: Umum , turing , lampung , rogad

 

Yang merating Note ini:


14 Komentar
Mantab.....saya pernah punya keinginan untuk ke lampung pakai MTB.....tapi belum dapet2 barengannya....moga2 next trip bisa ikutan.....lanjutkan
Subhanallah om ... luar biasa .. jadi ngiler pengen ikutan ...
TOP Abis. Keren banget!
foto eksternalnya sudah muncul kok om... big grin
TOP, makasih om Admin, akhirnya fotonya bisa muncul juga..
terima kasih kembali om @denmpoer , ngeliat foto-fotonya jadi kangen masa2 kuliah, apalagi yang foto terkahir itu, kompak dan kekeluargaannya kental bener, kayak kopi 1:5, manstab!
yup bener om,, kangen masa2 ngeGEMBEL hehe, hayu next triplah,,
Keren banget!!.
Ajibbbb benerrr.....mantab
Mengagumkan karena saya lahir di Bandar Lampung, dulu Teluk Betung, maka tahu sekali mengenai banyak tanjakan. Salut dan dua jempol untuk rombongan ini.
MANTABBBB.... coba mampir k rumah dulu om..
Salut dan takjub....., saya yg tinggal di lampung belum pernah sepedaan sampai bakauheni...., ngebayangin tanjakan antara kalianda dan Bakauheni... curam dan panjang...., TOP ABIS buat smuanya...
Lakukan Login untuk memberikan komentar.