rizqa lahuddin

Menarik +8 rating

Solo, Kota Yg Ramah Dengan Sepeda
 rizqa lahuddin08 Juli 2012, 14:093 komentar di Kategori: Umum

Di salah satu note saya sebelumnya, pernah saya singgung sedikit bahwa pada saat saya kelas 4 SD, pernah bersepeda bersama seorang teman sampai sejauh 30km (PP) dari rumah orangtua saya di daerah Colomadu ke pusat kota Solo.

Hal tersebut bisa dilakukan karena hampir 3/4 dari perjalanan saya tersebut melewati jalur lambat yg hanya digunakan oleh sepeda dan becak, dimana jalurnya memiliki separator / terpisah dari jalur kendaraan bemotor.

Bisa dibilang, saat itu orang tua bisa tenang melepas anaknya "main" sejauh puluhan kilometer naik sepeda karena memang jalanannya aman. Yah, memang sih, saat itu (tahun 1995) motor-motor baru memiliki kapasitas mesin rata-rata 80-100 cc sehingga belum sekencang sekarang, tetapi faktor utamanya adalah kenyamanan bagi pengguna sepeda, yang bahkan cukup aman bagi anak umur 9 tahun untuk melewatinya.

Jalur sepeda / jalur lambat di kota solo memanjang mulai dari tugu adipura (perbatasan solo-colomadu)  sampai ke stadion manahan. Panjangnya mungkin sekitar 5km. Jalur sepeda lainnya ada di Jalan Slamet Riyadi (perbatasan kartasura) memanjang sampai pusat kota Solo di Alun-Alun.

Saat ini, jalur tersebut masih ada. Hanya jalur lambat di Slamet Riyadi lah yang tinggal menyisakan satu sisi karena di sisi lainnya berubah menjadi "citywalk". Tetapi itu pun masih nyaman untuk dilewati dengan sepeda.

Selain itu, kota Solo yang berada di tengah-tengah kabupaten karanganyar, sukoharjo, boyolali dan sragen sangat menunjang untuk dibangun sistem transportasi umum berbasis komuter. Lokasi pusat kota yg berada di tengah-tengah, menjadi inti dari segala aktivitas ekonomi dan perdagangan, sedangkan kabupaten sekelilingnya bisa menjadi pusat pemukiman.

Dengan demikian, apabila trasportasi dari pusat pemukiman ke arah pusat kota sudah sedemikian mudah, tidak akan dijumpai lagi kendaraan bermotor yang hanya akan menambah kesemrawutan kota.

Masyarakat bisa menjadi "komuter", dng memanfaatkan transportasi umum dari rumah sampai ke tempat kerja di pusat kota. Hal ini pernah saya lakukan saat duduk di bangku SMP, denga bersepeda sejauh 3km dari rumah ke terminal kartusuro, lalu sepeda dititipkan ke penitipan, kemudian dilanjut dengan bus kota yg tepat berhenti di depan SMP.

Semoga kota SOlo terus dan akan selalu menjadi kota yg ramah dengan sepeda

 

(note ditulis karena si penulis udah nggak sabar sebentar lagi bulan ramadhan, dan tentu saja sudah menanti nanti buat mudik ke kota solo, kota kelahiran) hehe..

 

Tag: Umum , solo , kota ramah sepeda , jalur sepeda

 

Yang merating Note ini:


3 Komentar
tahun 95 sy jg pernah ke Solo tp cma singgah beberapa waktu. tp wktu itu sy naik motor ga naik sepeda. big grin
Salam buat Pak Joko Wi ya...sama temen2 blogger di Solo Bloentankpoer cs... kapan2 maen ke Solo bawa sepeda ahhh..
nek denger kata solo jd inget almarhum si mbah^^.
pp ne apik maz,, solone ndi mz?
Lakukan Login untuk memberikan komentar.