adeinisme
tentang bike lane di bandung [update:2010 terealisasi juga akhirnya]
04/02/09
Walikota Dada Rosada berjanji akan membangun bike line pada 2009, kita sebagai masyarakat yang mencintai kota harus meresponnya agar hal ini tidak menjadi sampah kebijakan yang akan membebani APBD. Partisipasi warga masyarakat dan aparat pemerintahan dalam menggalakan bersepeda dalam beraktifitas sangat dinantikan partisipasinya.
Mari kita bermain matematika sederhana, jika di kota Bandung pada sebuah SMA negeri mempunyai siswa sejumlah 400 siswa dan tiap 200 siswa dan 20 guru dan staff memiliki sepeda motor dan 10 siswa termasuk guru saja yang membawa mobil, maka setiap pagi di sekolah itu terdapat 220 buah sepeda motor dan 10 buah mobil. Jika parkir motor memerlukan tempat 1.8 x 0.6 m maka luas lahan parkir yang harus disediakan sekolah adalah 1.08 m2 x 220 = 237.6 m2 . Maka jika di kota Bandung ada 10 SMA negeri dengan rata-rata penggunaan sepeda motor seperti pada hitungan di atas maka tentunya bukan jumlah yang sedikit. Belum lagi sekolah-sekolah lainnya baik negeri maupun swasta ditambah perguruan tinggi dan instansi-instansi milik pemerintah dan swasta. Maka sudah dapat dibayangkan setiap pagi polisi lalu lintas akan pusing mengatur kendaraan yang banyak. Secara ekonomis tentunya pihak sekolah ataupun instansi lainnya akan dibebani penyediaan lahan parkir yang luas, disamping itu perlu adanya personil keamanan karena “hari gini” tidak ada tempat yang aman. Tulisan sederhana ini tentunya tidak untuk mengupas pelajaran matematika ataupun statistika, bahkan hitungan diatas tidak menggunakan data sebenarnya.
Sejak kapan kita mengenal sepeda? Saya mengenal sepeda sejak kecil, paling senang jika dibonceng sepeda onthel milik kakek. Ya , sepeda merupakan alat transportasi yang akrab di lingkungan kita. Bahkan pada zaman revolusi kemerdekaan konon katanya para pemuda yang akan menculik Sukarno (presiden RI 1) untuk mengikrarkan kemerdekaan bersepeda juga. Belum lagi kisah cinta kakek buyut kita. Wah luar biasa, terakhir kita mungkin pernah menonton laskar pelangi dimana sepeda merupakan alat transportasi yang dominan. Jadi kita tidak mungkin tidak kenal sepeda.
Kata siapa sepeda itu adalah alat transportasi kalangan menengah ke bawah. Jawabannya adalah relatif karena kita tahu ada sepeda yang harganya hingga jutaan rupiah. Bahkan di jepang ataupun beberapa negara di eropa, sepeda merupakan alat transportasi alternatif. Bayangkan di Jepang sana konon harga parkir kendaraan cukup mahal, maka untuk menghemat biaya transportasi mereka menggunakan alat transportasi masal yang murah dan nyaman tentunya juga bersepeda ke tempat beraktifitas. “So “ kenapa harus gengsi naik sepeda.
Salah seorang penggiat komunitas sepeda di kota Bandung menyatakan bahwa naik sepeda itu harus didasari rasa senang saja dulu, baru kemudian kita mendapat bonusnya seperti lingkungan sehat, kesehatan diri dll. Para ahli lingkungan mungkin sudah menghitung berapa beban polusi kota Bandung dibandingkan dengan pohon-pohonan sebagai filter karbondioksida. Setiap pagi dengan ilustrasi di awal tulisan ini kita bisa membandingkan bahwa jurangnya terlalu dalam.
Berspeda atau istilah para penggiat sepeda “goes” harus dilakukan dengan gaya, maksudnya semua kalangan tidak usah malu berspeda. Dikalangan remaja kita tahu komunitas sepeda cruisser dengan modelnya yang unik dan gaya tentunya. Ditambah kita juga mungkin pernah melihat komuntias sepeda kuno, sepeda lawas tersebut pun masih cukup gaya dipakai beraktifitas. Dan komunitas-komunitas lainnya seperti komunitas bike to work yang menggalakan berspeda ke tempat beraktifitas. Jadi setelah kita mulai giat bersepeda tidak ada salahnya bergabung dengan komunitas-komunitas tersebut untuk menjalin silaturahmi dan komunikasi.
Bagaimana kita memulai bersepeda? Tentunya yang pertama-tama kita harus memiliki sepeda, jika belum kita bisa membelinya disesuaikan dengan dana yang dimiliki. Banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk memiliki sepeda seperti membeli sepeda “seken” atau membeli sepeda baru, itupun masih terbagi lagi apakah merakit sendiri atau membeli sepeda jadi (full bike), yang terakhir mungkin bapak atau kakek kita masih menyimpan sepeda kuno yang “gaya” itu.
Kebijakan walikota yang mendukung gerakan bersepeda ke tempat aktifitas dengan berjanji membangun bike line harus kita apresiasi. Di Jakarta kebijakan ini tertunda karena jumlah pengguna sepeda ternyata masih sedikit. Oleh kerena itu kita sebagai masyarakat yang mendukung gerakan ini beserta pemerintah bekerjasama untuk mensosialisasikan kegiatan bersepeda. Salah satu contoh solusi yang bisa ditempuh adalah Pemkot kota mewajibkan aparatnya untuk bersepeda ke tempat kerja. Sekolah-sekolah mewajibkan siswanya (bagi yang punya sepeda, bagi yang belum diusahakan) bersepeda dan melarang pengunaan sepeda motor. Masih ingat kasus geng motor yang pernah marak di kota Bandung, hampir pelakunya kebanyakan remaja sekolah. Fenomena geng motor menurut beberapa pendapat muncul karena kesenjangan sosial dan budaya hidup konsumerisme. Ya jika disekolah yang muncul adalah geng sepeda maka geng ini merupakan fenomena sosial yang menyehatkan (positif). Dan yang mungkin asing di negeri ini adalah polisi bersepeda; di beberapa negara barangkali keberandaan polisi bersepeda sudah tidak aneh lagi. Para polisi ini bisa bertugas di tempat keramaian dan kawasan-kawasan wisata di kota Bandung.
Bonus kesehatan.
Mungkin ada yang memiliki data berapa usia harapan hidup manusia di kota dengan tingkat polusi tinggi? Kebijakan Walikota periode sekarang salah satunya adalah Bandung Sehat. Bagaimana pemerintah mengukur indikator masyarakat sehat, bagaimana budaya hidup sehat dapat disosialisasikan. Dan aktifitas sehat apakah yang murah dan terjangkau. Salah satu solusinya adalah bersepeda. Bersepeda termasuk aktifitas olah raga yang dapat menguatkan kardiovaskular manusia kata seorang dokter penggiat sepeda juga, setidaknya tingkat harapan hidup akan tinggi.
Bonus lingkungan.
Kita tahu sekarang bahwa bersepeda adalah satu kegiatan yang banyak memberikan bonus, mungkin tidak seperti MLM yang menawarkan bonus materi “wah”. Namun bonus-bonus itu jauh nilainya jika dibandingkan dengan nilai materi. Lingkungan kita yang sedang terancam atau populer disebut “global warming” memerlukan tindakan nyata dari kita yang menyadarinya. Kegiatan sepeda tidak menimbulkan emisi yang membahayakan serta ramah lingkungan. Kota Yogya yang dulu terkenal sebagai surganya sepeda kini terancam diguyur hujan asam. Tingkat penggunaan kendaraan bermotor di kota itu sangat tinggi mungkin masih kalah jika dibandingkan dengan kota Bandung. Dengan asumsi penggunaan sepeda motor di lingkungan sekolah ditambah aktifitas hari libur dimana kota Bandung diserbu wisatawan domestik yang menggunakan kendaraan, mungkin hujan asam akan turut mengguyur Bandung. Bahkan tanpa kita sadari mungkin sudah terjadi (baca; hujan asam) karena jika sepeda saya terkena hujan pasti akan meninggalkan karat dimana-mana.
Tidak perlu paragraf baru.
Ini adalah paragraf terakhir yang pada dasarnya ingin mengajak kita semua sebagai warga kota Bandung untuk mencintai kotanya dengan aktifitas yang mengarah pada pelestarian lingkungan, menanamkan budaya sehat dan bersahaja juga mengajak kita semua mulai hari ini atau besok untuk bersepeda. Seperti salah satu tulisan di sudut Gd. Indonesia menggugat atau landraatt “dilarang merokok di tempat ini karena sukarno tidak merokok”; dan kini disudut ruang kerja kita tulis “disarankan bersepeda sekarang juga, karena pemimpin negeri ini dulu juga bersepeda”, atau “ bersepeda hari ini, anda akan mendapatkan bonus gede-gedean”. Masih banyak slogan yang kita buat untuk mendukung kebijakan pembangunan bike line pada 2009 serta memasyarakatkan kegiatan bersepeda. Jangan kalah oleh slogan parpol dimana belum tentu memberikan solusi nyata. Kita lihat saja di 2009, semoga bike line bisa terwujud.
Tag: Umum



51.90
351.90
