Victor Riu Danar Wirapratama

XTR +7 rating

tidak sekedar bersepeda..
 Victor Riu Danar Wirapratama02 Desember 2011, 11:315 komentar di Kategori: Umum

Perkembangan alat transportasi kini semakin pesat dan canggih. Mulai dari bentuk yang kian minimalis dan tekhnologi yang variatif. Tak jarang orang berlomba-lomba untuk membeli alat transportasi agar tidak ketinggalan jaman. Mulai dari mobil yang futuristik, sepeda motor yang irit dan modern hingga sepeda pun tak luput dari metamorfosis jaman. Sepeda kini bukan merupakan strata alat transportasi yang palin rendah. Dahulu sepeda digunakan untuk mereka yang tidak belum mampu beli mobil atau sepeda motor. Kini sepeda selain sebagai alat transportasi atau hobi, sepeda juga dijadikan sebuah lifestyle bagi sebagian orang. Semakin tinggi harga sepeda atau semakin banyak seorang memiliki sepeda menjadi acuan bahwa mereka sukses. Selain itu hobi bersepeda bisa menjadi sesuatu yang terkadang bisa menguras kantong dan isi dompet. Sebenarnya terpenting dari semua itu adalah bukan seberapa bagus sepeda yang kita punya tetapi seberapa sering kita menggowesnya.

Awal tahun 2009 saya mencoba bergabung dengan salah satu komunitas pekerja bersepeda atau lebih sering dikenal dengan Bike To Work (B2W). Saat itu saya belum ada keinginan bersepeda ke kantor karena rute kantor harus melewati dua buah tanjakan dan diantaranya adalah tanjakan panjang yang sangat disegani beberapa pesepeda di Semarang. Sebagai pemula rata-rata membeli sepeda hybrid karena biasanya pemula hanya berorientasi bersepeda pada jalan raya saja. Setelah kelamaan memiliki beberapa teman bersepeda dan bertukar pengalaman, muncullah beberapa ‘ratjoen’ untuk menikmati sepeda jenis lain. Seperti mencoba bersepeda di tengah hutan hingga sepeda yang dapat dilipat. Hal ini terjadi padaku yang akhirnya tertarik pada sebuah sepeda lipat. Saya membelinya bukan baru dari sebuah toko tetapi sepeda ini bekas dan jarang digunakan oleh pemilik sebelumnya. Singkat kata saya sangat cinta,sayang dan suka dengan sepeda lipat saya yang satu ini. Hanya ada beberapa upgrade sederhana dan beberapa asesoris pemberian seorang teman yang sudah saya anggap seperti keluarga. Saya sering sekali bersepeda menggunakan sepeda lipat ini. Pernah suatu saat saya bersepeda dari Solo-Wonogiri kemudian berlanjut dari Wonogiri-Semarang. Mungkin bagi penggila bikepacker, rute ini tidak terlalu jauh. Terdapat hal menarik ketika saya melakukan perjalanan Wonogiri-Semarang pada tanggal 17 Agustus 2010 dengan sepeda lipat dan tas pannier seorang diri. Saya bersepeda kali ini dalam rangka mengenang para pahlawan yang telah gugur demi bangsa dan negara karena kebetulan pas hari Kemerdekaan Indonesia. Jarak yang ditempuh sekitar 150 kilometer. Dengan topografi yang banyak tanjakan landai dan jalan yang tidak terlalu lebar serta berbagi dengan kendaraan bermotor lainnya. Saya berangkat pukul 05.15 WIB setelah berpamitan kepada eyang untuk melakukan hal nekat yang senekat-nekatnya. Saya bilang ini nekat karena jam terbang saya Cuma sebatas sering nanjak dan beberapa kali pernah luar kota tapi tidak sendiri. Selain itu uang saku saya tinggal Rp.26.600 dan tidak ada lagi. Paling tidak jika saya tidak kuat bisa naik bis tapi minimal kuat mengayuh sepeda hingga Solo kira-kira 30-40 kilometer dari Wonogiri karena harga tiket bis dari Solo menuju Semarang adalah Rp.20.000. Perlahan tapi pasti saya mulai mengayuh sepeda dan tanpa sarapan sebelumnya (mohon jangan ditiru karena hal ini bisa membuat lapar). Inilah yang menjadi pengalaman berharga bagi saya, ketika saya menjadi takut untuk masuk ke rumah makan karena uang pas-pasan. Bagaimana nanti jika uangnya kurang atau makanannya terlalu mahal sedangkan perjalanan masih jauh. Ada dua pilihan ketika sampai Solo yaitu saya makan tapi lanjut gowes atau saya tidak makan tapi naik bis. Dan saya memutuskan makan daripada sakit, artinya selanjutnya saya harus gowes hingga Semarang. Saya mencari tempat makan yang benar-benar murah. Saya kemudian berpikir bahwa biasanya saya naik motor, uang cukup untuk makan di kelas menengah. Kini untuk makan di pinggiran pun saya harus mikir dulu takut uangnya tidak cukup. Ada warung kecil yang barusan buka,saya memberanikan diri untuk masuk. Memesan soto ayam dan teh hangat,tidak berani ambil lauk pauk karena takut uang tidak cukup.

Sambil ditanyain orang yang juga makan disitu, “Dari mana mas?”

saya pun menjawab “dari wonogiri pak.”

Lanjut bapak itu “Wah lumayan juga yaa, mau kemana?”.

Dengan spontan saya menjawab “Ke Semarang pak.”

Bapaknya agak kaget,kemudian bertanya lagi “Lahh..teman-temannya mana? Dibelakang?”

Jawabku lagi “Cuma sendiri pak.”

Si bapak lalu tidak meneruskan pertanyaan karena tampaknya sudah terburu-buru, atau mungkin sambil berujar “Dasar wong edan” hhehe.

Selesai makan saya langsung menanyakan harga menu sarapan pagi saya dan ternyata hanya habis Rp.5000 saja,leganya saya ketika mendengar harga seporsi soto itu. Perjalanan masih panjang dan uang tinggal Rp.20.600, panas semakin menyengat. Mulai menuju arah boyolali dengan jalan sedikit menanjak dan panjang sekali. Kesalahan saya adalah melihat papan petunjuk yang mengatakan bahwa Semarang masih 89 KM lagi. Whaaatt?? Lemes rasanya membayangkan Semarang masih jauh. Berkali-kali saya merasa bosan dengan perjalanan seorang diri, bahkan deretan lagu di hape yang menemani perjalan saya tidak terlalu menarik lagi. Setiap beberapa kilometer mengayuh kemudian saya berhenti, begitu seterusnya. Saat-saat seperti inilah saya harus mampu memotivasi diri sendiri. Di saat saya lelah dan tak berdaya, hanya saya yang dapat menolong diri sendiri. Setelah sedikit merenung sambil ngemil biskuit dan jus jeruk yang saya bawa, saya mulai berpikir (lagi). Cobalah mengayuh untuk beberapa meter saja dan jangan membayangkan ujung perjalananmu. Ingatlah, semua perjalanan di awali oleh sebuah langkah kecil. Tak ada sesuatu yang tidak mungkin. Mencoba kembali mengayuh, walaupun masih beberapa kali hampir terlunta karena jalan yang nanjak..turun..nanjak lagi..benar-benar menguras tenaga.

Pukul 12.00 WIB sampailah di Salatiga. Di kota ini saya menyempatkan untuk makan bakso ABC nan legendaris gitu..baksonya yang istimewa di antara segala bakso di dunia. Saya kembali tidak berani masuk karena takut harganya kemahalan. Saya kemudian mengirim pesan singkat alias SMS ke teman kantor dan memastikan harga bakso ABC dibawah Rp.20.600. Setelah memberanikan duduk, pesan dan memakannya kemudian beranjak membayar saya terkaget lagi. Ternyata harganya di bawah Rp.10.000,senangnya karena uang masih sisa hhehe. Perjalanan semakin panas dan menantang. Kesalahan saya yang kedua adalah membaca papan penunjuk arah yang mengatakan bahwa Semarang masih 49 KM lagi. Sudah gowes lamanya minta ampun hanya berkurang 40 km?? Lanjutkan saja deh..walaupun tanjakan di Bawen membuat saya agak sedikit mual. Perlahan tapi pasti, tanpa memaksakan diri. Tiba juga saya di Ungaran, kemudian bertemu bapak-bapak yang naik sepeda gunung. Sempat saya membunyikan pakai bel sepeda saya (hal yang slalu saya lakukan jika berpapasan dengan pesepeda dimanapun dan siapapun) Dia kemudian putar arah menghampiri saya dan bertanya-tanya darimana serta mau kemana. Mengajakku gowes bareng suatu saat dan dia mengajak skalian pulang lewat jalan di belakang kota Ungaran. Di pinggir jalan tampak ada warung kucing, dia memintaku untuk beristirahat sejenak. Sambil minum teh hangat di teriknya panas siang yang beralih sore. Tanpa berlama-lama saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mengayuh sendiri dan akhirnya tiba di rumah dengan selamat pada pukul 14.30 WIB. Muka hitam dan berkeringat,sampai ibuku tak habis pikir ngidam apa dulu sampai punya anak senekad kamu..ckckckck. Ibu segera menelepon ke eyang jika saya selamat sampai rumah dengan sepeda. Hhehe. Perjalanan panjang yang membuatku sangat menikmatinya. Tanpa ada yang mengatur ritme perjalananku, mengatur sendiri kemampuanku dan capek-capek sendiri. Ada hal yang membuat saya mengambil hikmah edisi gowes tapak tilas ini. Pertama, terkadang ga selamanya kita bisa merasakan apa yang biasa kita rasakan. Seperti halnya tadi saya masuk ke tempat makan saja ga berani karena takut uangnya tidak cukup. Ketakutan saya tadi menjadi pelajaran untuk berpikir sejenak mengenai arti kata bersyukur. Apapun itu, bersyukurlah atas apa yang kau dapatkan. Kedua, memotivasi diri itu perlu. Sempat saya hampir putus asa karena dihajar panas, tanjakan, lapar dan lelah. Mencoba untuk berpikir sejenak dan sedikit rileks. Menyemangati diri sendiri agar semangat memenuhi tangki jiwa yang mulai kosong. Ketiga, tak ada sesuatu yang tak mungkin. Jika kita berpikir bahwa hal tersebut adalah mustahil berarti itu benar. Tapi akan salah ketika kita tak mau mencoba dan berusaha. Seperti halnya kayuhan sepeda yang slalu ke depan, membuat kita jangan terlalu melihat ke belakang dan mencoba fokus ke depan. Fokus ke depan bukan berarti kita hanya memperhatikan lurus saja, sesekali cobalah melihat di sekitar. Sehingga kita tidak terlalu cepat melewati hidup karena terdapat hal-hal yang menarik ketika kita menikmati sekitar kita. Berbagi terhadap sesama, sekecil apapun adalah berbagi. Bukan masalah banyak atau sedikit tapi kesediaan kita berbagi. Kepercayaan diri bersepeda dimulai daridalam hati kita. Jika pikiran kita tenang dan tanpa beban maka bersepeda akan menjadi hal yang lebih menyenangkan dengan naik sebuah mobil mewah. Kita bahkan lebih bangga di bandingkan dengan mereka yang mengendarai sepeda motor besar yang harganya selangit karena kita tidak membuang polusi dan menghemat Bahan Bakar Minyak. Jadi tunggu apalagi..mari kita bersepeda. smile

 

 

Tag: Umum , B2W-AquaTouch

 

Yang merating Note ini:


5 Komentar
congrats ya om sudah menang!
Selamat om atas kemenangannya...
Oom, Slamet yah ... anda layak jadi pemenang. Tetep setia gowes yah oom ... kita gowes sampe kakek-kakek ... sampe jadi B2W chapter Lansia .. Congrats!
selamat yah om...sudah menang.... big grin
Lakukan Login untuk memberikan komentar.

 

Note terkait:

B2W-AquaTouch - Menanjak Bukan Lagi Sebuah Momok.-
30 November 2011, 16:57
Sepedaku . . . Hidupku
06 Desember 2011, 14:59
Sepeda Sepanjang Masa
29 November 2011, 08:32